TALENAN DAN COBEK, MEDIA INVESTASI AKHIRAT
TALENAN DAN COBEK, MEDIA INVESTASI AKHIRAT
Pembelajaran yang hakiki tak cukup sampai pada penguasaan kompetensi kognitif. Kompetensi afektif dan psikomotor juga harus menjadi tujuan. Sehingga pembelajar tak hanya mahir berteori. Pembelajar dapat mempraktikkan ilmu yang diperoleh, serta memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
Harapan pembelajaran optimal tersebut selalu diupayakan guru-guru di SD Al Hikmah Surabaya. Sebagai contoh, pembelajaran tematik murid-murid kelas VI-nya. Pelaksanaan pembelajaran dilalui secara out door learning. Murid-murid dikenalkan industri lokal (sepatu kulit dan gerabah) yang berlokasi di Mojokerto. Mereka bisa menyaksikan secara virtual bagaimana memproses bahan mentah menjadi setengah jadi dan diolah hingga menjadi barang jadi yang siap dipasarkan. Mereka bisa berwawancara melalui zoom dengan narasumber dengan pendampingan guru yang siaga di lokasi. Secara bergantian, aneka pertanyaan digelontorkan dengan santun. Mereka belajar demikian dengan persiapan. Dengan niat, mereka tidak belajar dari nol. Beberapa pertanyaan mereka siapkan. Mulai awal berdiri industri tersebut, nama pemiliknya, pemasararannya, dll. mereka tanyakan.
Setelah wawancara, hasilnya diwujudkan dalam bentuk laporan dan diunggah dalam LCMS Modle (Learning Content Manajement System). Tujuannya, agar guru tetap bisa memantau sejauh mana hasil belajar yang dilakukan murid-muridnya. Sebagai wujud pembelajaran SBdP yang terintergrasi dalam tematik, mereka pun membuat karya lukis di cobek dan talenan. Setelahnya, pun diunggah dalam LCMS Modle. Karya mereka tak berhenti hanya sekadar karya untuk hiasan dan penilaian. Di ujung semester I tahun pembelajaran 2021/2022, semua karya
lukis murid kelas VI tersebut selama tiga hari, hari Rabu-- hari Jumat, 15--17 Desember 2021 dipamerkan saat ada momen pembagian rapor kelas I--VI .
Sebagaimana yang disepakati oleh murid-murid kelas VI atau sang kreator, lukisan mereka tak cukup hanya dipamerkan, tetapi juga untuk dijual. Mereka ingin seluruh hasil penjualan didonasikan untuk korban erupsi Semeru. Sebagian ada yang membeli hasil karya sendiri. Ada lagi yang unik, selain mereka membeli karya sendiri, juga menjualnya kembali. Kesepakatan harga penjualan karya Rp30.000,00-50.000,00. Dari ketentuan tersebut, sebagian besar pembeli membayar lebih. Bahkan ada yang membeli karya sendiri senilai Rp1.000.000,00. Semua berangkat dari nurani. Sisi kemanusiaan begitu besar. Urusan pengeluaran keuangan untuk amal tak diperhitungkan. Ini yang memang sering didengungkan guru-guru SD Al Hikmah Surabaya di hadapan murid-muridnya. Belum sepekan, guru-guru kelas VI juga memberikan keteladanan berderma kepada para Ojol dengan cara memesan makanan melalui aplikasi. Namun, pesanan tersebut diperuntukkan para Ojol itu sendiri.
Alhamdulillah, lebih dari 1oo karya lukis terjual dan terkumpul Rp8790.000,00. Hari pertama terkumpul Rp2.200.000,00. Hari kedua, Rp1.245.000,00. Di hari terakhir, Rp5. 345.000,00.
“Saya berharap, pengalaman ini bisa memupuk empati anak-anak dan menggerakkan hati anak-anak untuk peduli pada yang tertimpa musibah,” tutur Ustazah Dwi Sudarti, selaku Koordinator Jenjang kelas VI dan penggagas kegiatan terssebut.
Semoga niat baik dan amalan murid-murid kelas VI SD Al Hikmah tersebut dicatat Allah SWT sebagai amal saleh dan menginspirasi adik-adik kelasnya. Aamiin_NS_
