Perang 10 November di SD Al Hikmah
Peringatan Hari Pahlawan di SD Al Hikmah berlangsung semarak. Tiga kegiatan dilakukan secara berurutan
Peringatan Hari Pahlawan di SD Al Hikmah berlangsung semarak. Tiga kegiatan dilakukan secara berurutan. Pertama jalan santai dengan busana nuansa pejuang kemerdekaan. Kedua teatrikal peristiwa Perang 10 November. Dan ketiga lomba menulis cerita perjuangan.
Kegiatan jalan santai dimulai sekitar pukul 07.30. Seluruh siswa dan guru SD Al Hikmah berjajar rapi dalam barisan kelas di lapangan sepak bola. Semuanya mengenakan baju yang dari hari-hari biasanya. Terbanyak memakai baju tentara dan pejuan. Namun ada juga yang mengenakan busana dan aksesoris unik. Misalnya kelas V putri ada yang kompak memakai jilbab sarung, dan aksesori terbuat dari Koran. Turut meramaikan acara tersebut, tetabuhan tradisional patrol.
Setelah dibuka oleh Kepala Sekolah, Ustadz Anwar, dengan diiringi pekik merdeka, peserta pun diberangkatkan. Peserta menyusuri jalan sekitar sekolah dengan tertib. Di sepanjang perjalan siswa dan guru tampak antusias. Mereka terlihat menikmati momen santai ini.
Sekitar pukul 08.00, peserta jalan santai telah sampai di gerbang sekolah. Mereka segera mengelilingi area paving lapangan basket di depan perpustakaan. Ada yang mendapatkan tempat nyaman dan bisa duduk, namun ada juga yang puas meski berdiri berjejal bersama teman lainnya. Apa yang mereka nantikan? Ya, mereka menantikan teatrikal Perang 10 November.
Teatrikal Perang 10 November diperankan oleh siswa kelas VI putra dan guru-guru. Sebagian siswa beperan sebagai arek-arek Suroboyo, sebagian lainnya menjadi tentara penjajah. Demikian pula guru-guru. Ada yang berperan sebagai Bung Tomo dan Gubernur Suryo, namun ada juga yang menjadi Jenderal Mallaby. Semua pemain kompak memerankan Perang 10 November.
Ini bukanlah teatrikal serius yang murni menekankan aspek sejarah, namun juga mengandung unsur hiburan. Karena itu, sepanjang pentas ada saja kelucuan yang muncul. Mulai dari tingkah lucu siswa, sampai siswa yang bingung harus melakukan apa. Hal tersebut membuat pentas ini semakin menarik. Jika dirunut esensi kegiatan teatrikal ini, tentu ustad-ustadzah Al Hikmah ingin siswa makin menghayati besarnya jasa pahlawan. Juga makin menghargai nikmat kemerdekaan. Sehingga mereka makin semangat mengisi kemerdekaan dengan rajin belajar. Karena , jika mereka rajin belajar, mereka akan ikut bisa memajukan bangsa Indonesia kelak. Dan inilah esensi tujuan belajar sejarah, yaitu belajar untuk menata masa depan.
Dan akhirnya, sekiar pukul 11.00, seteah anak-anak menikmati waktu istirahat selama setengah jam, mereka semua mngkuti lomba menulis cerita perjuangan. Lomba menulis cerita perjuangan dikhususkan untuk siswa kelas IV, V, dan VI. Sedangkan kelas-kelas di bawahnya megikuti lomba mewarnai gambar perjuangan. (FEN)
